Categories
Mahasiswa Berprestasi Publikasi Media

Duta Baca Kalbar Resi Jesita Mengajak Wanita untuk Memberi Teduh dan Pulang

Artikel ini sudah pernah dipublikasikan sebelumnya oleh Tribun Pontianak, dan dapat dilihat artikel aslinya pada tautan berikut: Duta Baca Kalbar Resi Jesita Mengajak Wanita untuk Memberi Teduh dan Pulang

Peringatan hari Kartini tentunya memiliki makna berbeda bagi setiap wanita. Pemaknaannya sendiri tergantung dari sisi pandang orang tersebut.

Satu hal yang pasti diingat Kartini di era modern harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Gimana ya Duta Baca Kalbar 2017, Resi Jesita memaknai Kartini?

“Kartini menciptakan hari perempuan itu untuk mengapresiasi perempuan-perempuan hebat yang keluar dari kotak, dan bukan berarti perempuan-perempuan yg masih berada di dalam kotak itu tidak hebat, karna semua perempuan itu luar biasa. Memberi “teduh & pulang” untuk orang lain dengan ketulusan yang alamiah dari seorang perempuan itu juga sesuatu yang membanggakan.

Aku rasa semua manusia itu diciptakan memang untuk bermanfaat bagi orang lain. Terlepas dari jenis kelamin. Tapi sebagai perempuan disini dan untuk banyak perempuan lainnya, jangan pernah takut dengan batasan yang diciptakan oleh orang lain. Kita yang pastinya tau dengan kemampuan dan kekurangan yang kita miliki, berdayakan itu.

Menurut aku kesetaraan wanita di era millenial udah ga bisa di pungkiri lagi, feminisme bukan lagi barang baru. Sekarang banyak lapangan pekerjaan yg katanya lebih tepat untuk laki-laki tapi perempuan sekarang juga banyak yang akhirnya menempati posisi sebagai seorang pemimpin; pemimpin dari laki-laki pada lapangan pekerjaan.

Perempuan juga sudah banyak yang berpendidikan tinggi. Bahkan banyak juga yang menjadi tulang punggung keluarga. Tapi kita juga harus paham dengan pemaknaan dari feminisme itu sendiri, bahwasanya perempuan tetap perempuan. Makhluk yang feelers nya lebih mendominasi daripada thinkers. Ingin di mengerti dengan caranya sendiri, mungkin moody an yang akhirnya bisa jadi kurang profesional di pekerjaan.

Feminisme itu menurutku senjata untuk mendapat pengakuan agar setidaknya perempuan mendapat kesempatan yang sama dalam beberapa kesempatan yang di anggap “hanya bisa dilakukan oleh laki-laki”, dan ini tidak berarti menganggap posisi perempuan itu dominan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *